Roy Manik: Sukses Butuh Perjuangan

Saat ini yg sering kita dengar dan baca tentang Bp.Roy Manik, Top Leader Platinum Group, melulu cerita kesuksesannya. Bahwa beliau kini telah mampu memiliki berbagai mobil mewah, beberapa rumah dan apartemen, dan penghasilan puluhan juta rupiah tiap harinya. Tapi tahukah bahwa Bp.Roy Manik untuk mencapai segala kesuksesannya hari ini harus membayar dengan keringat dan perjuangan yg mungkin tidak banyak diantara kita yg tahu.

Karena saya sering bertemu beliau, dalam forum2 sharing ataupun pertemuan2 pribadi, saya berkesempatan mendengarkan cerita beliau bagaimana perjuangannya dalam mencapai kesuksesannya hari ini melalui Melia Nature Indonesia tidak dicapai dengan cara yg mudah. Untuk itu bagi rekan2 yg belum pernah mendengarkannya secara langsung, saya akan menuliskannya di sini yg semoga bisa menjadi inspirasi bagi rekan2 dan menjadikan motivasi untuk bisa bersama sukses di Melia Nature Indonesia!

Sekitar 4 tahun lalu, Pak Roy dikontak kawan lamanya sewaktu di SMA di Medan dulu yaitu Bp.Sukur Nababan. Saat itu Pak Roy tinggal di Bandung dan Pak Nababan di Jakarta. Dengan modal gelar S2 dari Teknik Geodesi (satelit) Institut Teknologi Bandung, saat itu pekerjaan Pak Roy adalah menjadi dosen di kampus ITB serta mengerjakan berbagai proyek yg diberikan oleh rekanan ITB. Sementara itu Pak Nababan tadinya bekerja di sebuah perusahaan asing dengan posisi sebagai GM namun ditinggalkannya sejak beliau mengerjakan sebuah bisnis yg saat itu sangat tidak jelas asal-usulnya, yaitu Melia Nature Indonesia (saat itu namanya masih Melia Summit Indonesia).

Pak Roy mengatakan sebagai seorang dengan latar belakang teknik, dan nilai matematika sejak SD s/d SMA tidak pernah kurang dari 9, beliau adalah orang yg anti MLM!! Maklum dalam hitung2an beliau, untuk sukses di bisnis MLM probabilitynya sangat kecil. Apalagi untuk mencapai sukses di bisnis ini ada begitu banyak syarat mulai dari sistem peringkat, dan banyak syarat2 jebakan lainnya. Menurutnya jika ada orang yg datang kepadanya lalu mulai menggambar “bulatan-bulatan” (semua orang MLM pasti menggambar bulatan! hehehe…) pasti langsung diusir. “Boro-boro mendengarkan, baru mulai gambar saja pasti langsung saya usir!” demkian menurut Pak Roy.

Nah, saat Pak Nababan mengontak Pak Roy, sama sekali tidak terpikir bahwa Pak Nababan akan membawakan gambar2 bulatan yg akan mengubah hidup Pak Roy selamanya. Yg Pak Roy tahu, sejak selepas SMA mereka berpisah, Pak Roy melanjutkan kuliah di ITB sementara Pak Nababan di Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara (USU), mereka belum saling bertemu lagi. Jadi ketika Pak Nababan mengontak, yg ada dipikiran Pak Roy adalah pertemuan antar kawan lama. Saat itu Pak Nababan masih naik bis, beliau pergi dari Jakarta menuju Bandung secara khusus untuk menemui Pak Roy. Begitu bertemu di Bandung, setelah sedikit bercerita ttg kenangan lama, tiba2 Pak Nababan bilang kalau dia punya bisnis bagus. Sebagai seorang pebisnis Pak Roy cukup antusias dan berpikir mungkin mereka bisa bekerja sama mengerjakan proyek “serius”.

Yg mengherankan ternyata saat Pak Nababan mulai mengeluarkan kertas untuk menjelaskan “bisnis” yg beliau maksud, beliau mulai menggambar bulatan2, sesuatu yg dibenci Pak Roy! Menurut Pak Roy, kalau saja yg menggambar itu bukan Pak Nababan, kawan lamanya, sudah pasti saya usir! Jadi Pak Roy Cuma bilang secara halus “Sudahlah Lae (panggilan akrab khas Sumatera Utara)… kamu kan tahu saya tidak suka dan tidak akan pernah ikut bisnis ginian…. sekarang mending kita makan2 saja lah…”

Tapi Pak Nababan bilang, “Ooo ini lain Lae, berikan waktu setengah jam saja untuk aku terangkan, nanti kau putuskan apa mau terima atau tidak terserah?”

Karena tidak enak hati Pak Roy memutuskan untuk membiarkan Pak Nababan melakukan presentasi. Sampai selesai presentasi Pak Roy sebenarnya tidak tertarik, Cuma karena dalam penjelasan itu disinggung pula ttg manfaat obat, khususnya propolis, dan sekedar untuk menyenangkan kawan lamanya itu, Pak Roy akhirnya memutuskan untuk membeli.

“Berapa saya harus keluarkan uang?” kata Pak Roy. Pak Nababan menyarankan Pak Roy bergabung 7 unit (saat itu opsi tertinggi untuk bergabung adalah 7 unit). Singkat cerita Pak Roy langsung bergabung 7 unit dan mendapat 7 unit produk. Saat itu propolis digunakan Pak Roy untuk mengobati anaknya yg terserang penyakit demam berdarah dan juga untuk mengobati penyakit asam urat Pak Roy yg sudah akut. Ternyata propolis bekerja sangat baik bagi Pak Roy dan keluarganya. Sejak itu Pak Roy mulai menyarankan kawan2 dekatnya untuk menggunakan propolis sebagai alternatif untuk mengobati penyakitnya.

Karena saat itu Pak Roy bergabung 7 unit maka beliau pun selalu menyarankan kawan2nya untuk bergabung (membeli) 7 unit. Yg terjadi kemudian, bonus harian dari MNI mulai dirasakan. Karena closingnya rata2 7 unit yg terjadi maka bonus2 Pak Roy mulai menyentuh angka jutaan. Tentu rekan2 SPX paham dari bonus sponsor saja, untuk orang yg bergabung 7 unit kita mendapat bonus Rp.700rb, plus dari bonus leadership 6 kiri – 6 kanan sebesar Rp.510rb (kalau ada 2 orang masing2 bergabung 7 unit). Wah ternyata enak juga ya kata Pak Roy terima bonus yg dibayar harian. Sejak itu Pak Roy memutuskan untuk lebih serius di bisnis ini dan meninggalkan pekerjaan lamanya sebagai dosen di ITB. Dengan ketetapan hati dan dukungan dari istri tercinta Pak Roy memutuskan untuk mengambil resiko.

Di sinilah perjuangan Pak Roy dimulai. Pertama, saat menjalankan bisnis ini beliau tidak tahu cara memulai menjalankan bisnis ini dengan benar. Maklum saat itu platform ESN (Excellent Strategi of Network) belum tercipta. Kedua, orang tidak tahu apa itu MNI dan cenderung sinis, tidak seperti kalau bicara AMWAY, CNI, TIANSHI dll orang mungkin sudah kenal, tapi Melia Nature? Siapa pula yg kenal? Yg terakhir adalah cibiran dari kawan2 dekat dan persepsi negatif mereka ttg bisnis ini.

Pernah suatu ketika Pak Roy membuat brosur sebanyak 2.000 lembar dan membagikannya satu demi satu kepada setiap orang di sebuah mall. Saat ada kawannya yg melihat Pak Roy melakukan itu, mereka semua garuk2 kepala dan bilang “apa tidak salah Roy?? Masa pekerjaanmu di ITB kamu tinggalkan untuk pekerjaan main2 seperti ini?” Tapi saat itu Pak Roy tegar dan cuma bilang kalau satu hari saya pasti sukses dari bisnis ini. Tapi kenyataannya yg terjadi adalah dari 2.000 lembar brosur yg dibagikan, tak seorang pun yg tertarik dan bergabung!!

Lalu berbagai cara lainnya Pak Roy coba jalankan, tapi ternyata perkembangan bisnis MNI nya tidak semudah yg beliau bayangkan dulu. Hari demi hari dilalui tanpa closing dan mendapat bonus, dan itu artinya tidak ada penghasilan untuk keluarganya! Sampai satu hari Pak Roy memutuskan untuk berhenti dari bisnis MNI dan kembali ke kampus sebagai dosen. Dengan kata lain… Pak Roy menyerah!!

Saat Pak Roy mengutarakan hal tsb kepada istrinya, istrinya cuma bilang singkat saja… “masa baru begitu saja sudah menyerah!”

Menurut Pak Roy ucapan istrinya tsb lah yg akhirnya membakar semangat dan beliau benar2 merasa tertantang. Akhirnya Pak Roy memutuskan untuk bekerja lebih keras lagi, keyakinan yg lebih mendalam thd bisnis ini dan benar2 bekerja secara total. Saat itu setiap ada kesempatan untuk prospek, misalnya saat menunggu istrinya belanja di supermarket Pak Roy berkenalan dengan orang baru dan menjelaskan bisnis MNI ini. Beliau benar2 mengesampingkan ego pribadinya untuk menjalankan bisnis yg saat itu “masih belum jelas”

Beliau juga rela menempuh perjalanan dengan menggunakan bis umum selama 20 jam lebih ke daerah Jawa Timur karena dijanjikan oleh seseorang bahwa dia akan mengumpulkan sekitar 30 orang untuk mendengarkan presentasi Pak Roy. Yg terjadi sesampainya disana, tak seorang pun yg datang. Dan orang yg mengundang cuma bilang “Maaf pak, ternyata mereka semua pada punya acara lain.” Meski kesal Pak Roy tidak menyerah dan terus berjuang.

Rekan2 SPX dahsyat! Cerita Pak Roy itu benar dan saya termasuk orang yg melihat perkembangan Pak Roy di MNI dari dekat. Pada tahun 2006 kesuksesan Pak Roy di MNI belum seperti sekarang. Ukuran paling kasat mata, mobilnya saat itu pun “masih” Suzuki Escudo. Tapi dalam waktu satu tahun berikutnya pada tahun 2007 mobilnya sudah berganti menjadi Grand Vitara, untuk kemudian hanya dalam waktu 6 bulan berikutnya diganti menjadi Toyota Fortuner, dan pada awal 2008 Pak Roy sudah bisa membawa sebuah sedan Jaguar ke acara2 pertemuan MNI.

Acara makan2 Roy Manik bersama jaringan Platinum di Kota Malang, Jatim
Acara makan2 bersama jaringan di Kota Malang, Jatim

Dan saya tahu persis semua kesuksesan yg menjadi bahan edifikasi seluruh jaringannya bukan sekedar “bluffing” atau omong kosong, tapi benar2 kenyataan. Yg jelas, saya berkesempatan menaiki mobil2 beliau. Dan saat bepergian keluar kota saya ikut Pak Roy menginap hanya di hotel terbaik di kamar terbaik. Sebagai contoh saat kami mengadakan perjalanan ke Semarang pada bulan Juni 2008, kita menginap di Novotel Semarang di Suite Room yg bertarif Rp.2.000.000 semalam. Juga berbeda dengan leader di M_LM lain yg minta “diservis” oleh jaringannya, Pak Roy justru menraktir jaringannya, baik untuk acara makan atau mungkin bergembira bersama bernyanyi di tempat karaoke (family karaoke).

Di NAV Karaoke Malang, Jatim

Sebenarnya saat Pak Roy menunjukkan semua kemewahan tsb, beliau bukan bermaksud pamer, tapi untuk menunjukkan kepada rekan2 semua bahwa bisnis MNI ini, jika dikerjakan serius dia akan memberikan hasil yg serius.

Leave a Comment

I'm not a spammer This plugin created by memory cards